Aku beri nama dia keheningan

Ketika angin mulai masuk kedada perlahan,
membius sukma hingga terbuai akan udara khas semerbak selepas hujan.
Masih tersisa, sisa-sisa air yang menetes pada hijau daun.
Sepasang mata terpukau memandangi alur keharmonisan penghuni alam.

Ada senyum kecil tersungging perlahan

Seolah mewakili suasana sore itu

Ketika impian dan realita ternyata berbatasan dengan tebalnya tembok

Ketika udara selepas ujan pun tak mampu menyunggingkan tawa pada elok wajah yang terpaku menatap embun

air adalah sebuah keindahan,
mungkin kejernihan tepatnya

Ketika kilau – kilau terakhir mulai terlihat menetes pada ujung daun..

Ketika tangan seolah siap menadah

Menyaksikan kejernihan didepan mata

Seperti menyaksikan bayangan diri ketika semua dosa dan kemunafikan luluh lantah

Aku menyebutnya kesunyian ..

Saat semua berjalan pada alur kehidupan alam

Saat hanya sepasang mata yang menunggu tiap tetes terakhir dari sebuah keindahan yang bernama hujan..

Aku menyebutnya kesunyian

Saat sepasang tangan menengadah menanti sisa air hujan yang menetes

Dalam sebuah alur kehidupan manusia yang tak lebih pengap dari panas siang di sebuah kamar kos-kosan

Aku menyebutnya keheningan

Kala jari mulai menari
Kala otak mulai berkelana…
menemukan tiap jengkal keheningan yang terasa pada tiap sisi tulang.

Aku menyebutnya keheningan

Kala batin ini mulai tersenyum ..

Pada lelah dan harap yang masih tergatung pada langit – langit mimpi.

Tria dian Shofia
12 mei 2009
20.56

Dalam hening yang masih setia mengisi rongga jiwa.

Leave a Reply